MENYINGKAPI RAMALAN DENGAN BIJAKSANA

ramalan

Ramalan merupa kaninformasi tentang suatu hal/kejadian yang akan berlangsung di masa depan. Ramalan sudah ada sejak jaman kuda gigit besi. Dari jaman dahulu sampai sekarang dan di masa yang akan datang, ramalan akan senantiasa ada. Ramalan juga hal yang telah biasa menjadi kontroversi ditengah-tengah masyarakat dan ini merupakan hal yang sangat wajar karena tiap orang memiliki pemikiran dan kepercayaan masing-masing. Bagi mereka yang KONTRA alias tidak mempercayai ramalan tentu akan mengatakan ramalan adalah menyesatkan dengan alasan ramalan adalah mendahului kehendak Tuhan dan itu berarti musyrik. Bagi yang PRO dengan ramalan maka akan mempercayai ramalan itu sepenuhnya.

Tidak heran jika -misalnya- ada ramalan kiamat maka akan selalu ada kelompok orang yang mempercayainya sepenuhnya sehingga tidak jarang mereka mendirikan semacam sekte hari kiamat. Pada beberapa kasus bahkan banyak yang melakukan bunuh diri massal sebelum tanggal yang mereka yakini akan terjadi kiamat. Sungguh sangat memprihatinkan. Ada juga kelompok orang yang “angin-anginan” dalam menyikapi ramalan. Ketika mereka membaca ramalan tentang dirinya penuh dengan hal-hal baik maka akan mempercayainya dan berdoa agar menjadi kenyataan. Namun ketika ramalan tentang dirinya jelek, maka seketika itu menjadi emosi dan mengatakan ramalan itu menyesatkan. Lalu bagaimana menyikapi suatu ramalan dengan bijaksana? Seperti yang telah kita singgung sebelumnya, bahwa manusia yang melakukan peramalan akan senantiasa ada di setiap jaman. Orang yang meramal pun banyak ragamnya. Dari orang yang kita nilai sebagai manusia suci, para wali atau yang dekat dengan Tuhan hingga orang biasa. Jadi jika mendengar ramalan, maka lihatlah siapa yang berbicara. Jika ramalan itu berasal dari orang-orang suci, para wali atau yang dekat dengan Tuhan maka berhati-hatilah karena firasat orang yang dekat dengan Tuhan sesungguhnya amatlah tajam. Ramalan yang berasal dari orang yang dekat dengan Tuhan BUKANLAH MENDAHULUI KEHENDAK TUHAN. Logikanya harus dibalik! yaitu Tuhan MENGABARKAN TERLEBIH DAHULU kepada manusia pilihanNya dibanding kepada orang lain. Jika di ibaratkan dalam sebuah level organisasi, Direktur tentu akan memberitahukan suatu kabar/berita kepada Managernya terlebih dahulu sebagai orang kepercayaannya dibandingkan ke karyawannya. Masalahnya adalah tidak mudah bagi kita menilai seseorang itu dekat dengan Tuhan atau tidak karena hanya Tuhanlah yang mengetahui. Seringkali kita hanya melihat penampilan fisiknya nampak seperti orang alim sehingga kita percaya begitu saja padahal belum tentu menurut penilaian Tuhan. Dengan demikian, ramalan harus disikapi secara bijaksana yaitu tidak untuk dipercaya sepenuhnya melainkan sekedar untuk diwaspadai saja. Perbanyaklah sedekah agar kita senantiasa dijauhkan dari berbagai hal-hal negatif.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s