Meluruskan Arti Kebatinan

Kebatinan

Kebatinan adalah mengenai segala sesuatu yang dirasakan manusia pada batin yang paling dalam, dan terjadi pada siapa saja dalam kehidupan sehari-hari. Kebatinan dan spiritual tidak hanya terkait dengan keilmuan kebatinan / spiritual, atau keagamaan dan aliran kepercayaan, tetapi bersifat universal, berkaitan dengan segala sesuatu yang dirasakan manusia pada batin yang paling dalam. Di dalam kebatinan masing-masing orang terkandung keyakinan dan kepercayaan pribadi, pandangan dan pendapat pribadi, prinsip dan sikap hidup pribadi. Kebatinan melandasi kehidupan manusia sehari-hari, menjadi bagian dari kepribadian seseorang yang tercermin dan melandasi perbuatan dan perilakunya sehari-hari. Setiap manusia di dalam peradabannya masing-masing memiliki sikap kebatinan dan spiritual sendiri-sendiri, bukan hanya yang bersifat pribadi, tetapi juga segala sesuatu yang dipercaya oleh sekelompok masyarakat. Kebatinan dan spiritual tidak hanya terkait dengan keilmuan kebatinan, kepercayaan tentang hal-hal gaib, mitos dan legenda, atau kepercayaan keagamaan atau kerohanian, tetapi lebih dari itu. Kebatinan dan spiritual tidak boleh dipandang secara sempit dan dangkal dengan hanya menganggapnya sama dengan keilmuan kebatinan / spiritual, atau aliran-aliran kepercayaan, dsb. Kebatinan dan spiritual termasuk juga mengenai apa yang dirasakan oleh orang-orang yang sangat tekun dalam beribadah dan murni dalam agamanya, karena setiap agama pun mengajarkan juga tentang apa yang dirasakan hati dan batin, mengajarkan untuk selalu membersihkan hati dan batin, bagaimana harus berpikir dan bersikap, dsb, dan di dalam setiap firman dan sabda terkandung makna kebatinan yang harus dihayati dan diamalkan oleh para penganutnya. Bahkan panggilan yang dirasakan seseorang untuk beribadah, itu juga batin. Dan dalam batin itu sendiri tersimpan sebuah kekuatan yang besar jika dilatih dan diolah. Kekuatan kebatinan menjadi kekuatan hati dalam menjalani hidup dan memperkuat keimanan seseorang. Sebagian besar penghayatan kebatinan dan aliran kebatinan yang ada (di seluruh dunia) adalah bersifat kerohanian dan keagamaan, berisi upaya penghayatan manusia terhadap Tuhan (Roh Agung Alam Semesta) dengan cara pemahaman mereka masing-masing. Tujuan tertinggi penghayatan kebatinan mereka adalah untuk mencapai kesatuan dan keselarasan dengan Sang Pribadi Tertinggi (Tuhan). Oleh sebab itu para penganut kebatinan berusaha mencapai tujuan utamanya, menyatu dengan Tuhan, menyelaraskan jiwa manusia dengan Tuhan, melalui olah batin, laku rohani dan laku keprihatinan, menjauhi kenikmatan hidup keduniawian, dan menjauhi perbuatan-perbuatan yang terlarang dan menyelaraskan hidup mereka dengan kehendak Tuhan. Dan di dalam sikap hidup berkebatinan itu ada laku-laku dan ritual yang dilakukan manusia, seperti laku dan ritual dalam peribadatan agama atau laku-laku yang dilakukan dalam kepercayaan dan tradisi, seperti laku-laku dalam budaya dan kepercayaan kejawen, atau laku memperingati / merayakan hari-hari besar agama, atau laku-laku pribadi sesuai kepercayaan kebatinan masing-masing orang, seperti puasa mutih, puasa senin – kamis, wirid dan zikir, dsb. Sikap dan laku dalam berkebatinan tidak selalu harus ditunjukkan dengan laku-laku tertentu yang kelihatan mata, karena kebatinan terutama berisi sikap hati dan pandangan-pandangan pribadi yang semuanya tidak selalu terwujud dalam laku dan ritual yang kelihatan mata. Termasuk sikap hidup rasional manusia yang hidup di negara-negara maju dan modern, itu adalah sikap kebatinan mereka dalam hidup mereka sehari-hari.
Seringkali orang memandang istilah kebatinan secara dangkal dan mempertentangkannya dengan agama, padahal pengertian kebatinan ini bersifat luas. Kebatinan terutama berisi pengimanan / penghayatan seseorang terhadap apa yang dirasakannya di dalam batinnya, apapun agama atau kepercayaannya, dan di dalam masing-masing agama dan kepercayaan juga terkandung suatu kebatinan yang harus dihayati dan diamalkan oleh para penganutnya. Di dalam setiap firman dan sabda terkandung makna kebatinan yang harus dihayati dan diamalkan oleh para penganutnya. Tetapi sikap kebatinan dalam berkeagamaan ini sudah banyak yang meninggalkannya, digantikan dengan ajaran tata ibadah saja dan dogma / doktrin ke-Aku-an agama. Orang lebih memilih menjalani kehidupan formal agamis dan hanya menjalankan sisi peribadatan yang bersifat formal dan wajib saja. Sisi kebatinan dari agamanya seringkali tidak ditekuni. Walaupun pengertian kebatinan bersifat luas, tetapi dunia kebatinan pada masa sekarang memang sudah termasuk “haram” untuk diperbincangkan, karena orang berpandangan sempit dan dangkal tentang kebatinan, yang hanya dianggap sama dengan bentuk aliran kepercayaan yang berbeda dengan jalan agamanya, sehingga semua yang berbau kebatinan dianggap sebagai sesuatu yang harus diberantas, karena dianggap melemahkan / meracuni / merusak keimanan dan agama. Sikap berkebatinan dalam beragama saja jarang ada orang yang menekuni. Orang lebih suka menjalani / mempelajari agama dan tatalakunya yang bersifat formal saja dan banyak orang yang hanya mengikuti dogma dan doktrin dalam agama. Sekalipun banyak orang hafal dan fasih ayat-ayat suci agama, tetapi tidak banyak yang mengerti sisi kebatinan dan spiritualnya, akibatnya pengkultusan dan dogma dalam kehidupan beragama sangat mendominasi kehidupan beragama, membuat buntu spiritualitas beragama, sehingga banyak sekali terjadi perbedaan pandang dan pertentangan di kalangan mereka sendiri. Banyaknya aliran dan sekte dalam suatu agama adalah bentuk dari ketidak-seragaman kebatinan dan spiritual dari para penganut agama itu sendiri. Perilaku kebatinan (misalnya kejawen) yang dilakukan oleh seseorang yang beragama, seringkali memang dipertentangkan orang, dianggap bertentangan dengan agama, atau bahkan dianggap sebagai ajaran / aliran sesat atau dianggap sebagai ajaran / aliran yang bisa merusak keimanan seseorang. Padahal, penghayatan kebatinan pada dasarnya adalah pemahaman dan penghayatan kepercayaan manusia terhadap Tuhan. Penghayatan ketuhanan itu bukanlah agama, tetapi seseorang beragama yang menjalaninya, justru bisa mendapatkan pemahaman yang dalam tentang agamanya dan Tuhan setelah mempelajari kebatinan tersebut, dan seseorang bisa mendapatkan pencerahan tentang agamanya, walaupun pencerahan itu didapatkannya dari luar agamanya. Perilaku berkebatinan, termasuk berkebatinan dalam beragama, apapun agama dan kepercayaannya, baik sekali untuk dilakukan, supaya seseorang mengerti betul ajaran yang dianutnya, supaya tidak dangkal pemahamannya atau hanya ikut-ikutan saja, tetapi materi kebatinannya harus dicermati dan di-“filter”, dan memiliki kebijaksanaan untuk memilih yang baik dan membuang yang tidak baik, sehingga kemudian dapat menjadi pribadi yang mengerti agama dan kepercayaannya dengan benar dan mendalam. Jangan berpikiran dangkal dan membodohi diri dengan mengkondisikan diri untuk mudah dibodohi dan dihasut, apalagi disesatkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s